Thursday, February 16, 2012
Favorited tweets, #readsomewhere, and so on
If once we had decided to forget, then we alone can decide to remember. - Back to Heaven’s Light, Dewi Lestari
Beb, kamu kayak RBT. Ilang-ilang dan nggak jelas.- @jokoanwar
Beb, kamu kayak ember. Plastik. - @jokoanwar
Beb, kamu kayak majalah. Isinya cuman lifestyle. - @jokoanwar
hahahah entah kenapa aku suka sama celetukan-celetukan joko yang ber-beb-beb ini. dia sering nge tweet gini. nggak barengan pisah-pisah gitu. kayak beb the series
The excitement of going to a record store, stay for hours, browsing through hundreds of cassettes, can never be compared to downloading. - @indraherlambang
“Mau semaju apapun jaman. Anak ibu hidupnya harus tetep pake norma” ,Ibu - @triaoktaviani
“@ikanatassa: contoh customer from hell —-> RT @Agnescoco: sapa gue Your Highness, ya!!”
Remembering all the tears you cried will make you laugh; all the laughters you shared will make you cry. - @Tiffanywilliam
mengapa hati tak tenang? pasti ada sesuatu selain Allah yg memenuhi hati dan pikiran ini - @andiefirmansyah
I live my life not yours - @iqbalbusran
RT @desianwar: A good boss shares the credit with the team and keeps the blame for the self.
This generation is better at interacting via technology than face to face. - Tim Elmore. Me no likey :(
Some of the best moments in life are the ones you can’t tell anyone about. #readsomewhere SUPERTRUE!
Bon Iver won Best New Artist. You think Adele is galau? He’s suicidal - @pangeransiahaan
@cikaazhar: Lol RT @AntieRaka Taylor Swift ini wajah baik-baik tapi sering banget ganti-ganti pacar. Lah Katy Perry, wajah binal, susah move on.
umur segini tuh umur yang produktif bukan konsumtif - @Luthfi_Ahmad_A
If it is meant to be - it will be.
“Friendship isn’t about whom you have known the longest. It’s about who came, and never left your side.”
Hope for the Best. Expect the worst. Life is a play. We’re unrehearsed.- Mel Brooks.
“Doubt grows with knowledge.”
If you don’t say a word, everything will stay the same way.
Thursday, February 2, 2012
No, i just don't like to talk about myself
“You are a guidance counselor. If a student came to you and said ‘I have diabetes,’ would you give them insulin, or tell them ‘that’s who you are supposed to be?”
Dang!
Bagaimana kalau selama ini sifat 'too shy' saya sebenarnya seperti kasus 'diabetes' di atas? Saya terlanjur nyaman padahal ini bukan saya, setidaknya...... bukan saya yang saya mau.
Sunday, January 29, 2012
Mahasiswa
Mahasiswa.
Apa yang tergambar di pikiran sana saat kau mendengarnya?
Mungkin ruangan kuliah dengan kursi berundak, terfokus pada dua atau tiga papan tulis di bagian tengah. Mungkin mereka tertidur lelap disana? Mungkin ada proyektor juga. Mungkin kau bayangkan dosennya juga.
Atau mungkin serombongan pemuda dengan ransel di punggung, berjalan di koridor gedung.
Atau mungkin terbayang suatu event. Mereka berkeliaran kesana-kemari dengan nametag di dada. Panitia, tulisannya.
Atau mungkin mereka sedang di kompetisi nasional? Mungkin sedang mempresentasikan sesuatu.
Atau malah yang sedang duduk-duduk cantik di kafe, hipster-mocking sambil liatin display picturenya, ngegosip sana sini, haus perhatian dan peng-aku-an.
Tapi berapa banyak yang membayangkannya sebagai pemuda/pemudi yang berjalan kaki di permukiman, menyapa tukang gorengan depan kosan, sarapan bubur ayam sambil berbincang dengan penjualnya di pagi hari, meskipun sekadar bahas cuaca terkini. Berapa banyak yang membayangkannya sebagai pemuda/pemudi harapan bangsa, belajar tekun dan giat, terlibat aktif dalam pembentukan solusi bangsa, mengenali masalah-masalah bangsa terkini, membuat karya bersama-sama untuk memenuhi kebutuhan sekitar, bukan untuk ajang keeksisan lembaga semata. Berapa banyak yang membayangkannya mengajar anak-anak, membantu menuntun mereka, memberi inspirasi, menjadi contoh yang baik deh seenggaknya.
Terlalu angelic mungkin ya? Tapi coba pikirkan.
Mahasiswa di Indonesia tidak banyak. Siapa yang bisa bawa bangsa ini maju kalau bukan orang berpendidikan? Siapa yang berpendidikan? Apa jadinya kalau yang berpendidikan ini malah bermalasan semua? Indonesia butuh kita.
Seenggaknya sepengen-pengennya elo minggat dari ini Negara, berikan dulu sesuatu.
"ketika lulus mereka serta merta mendatangi kapitalis asing dengan menggunakan baju terbaiknya, lengkap dengan jas, rambut tersisir rapi, sepatu mengkilap dan justru mengemis: 'budak-i aku, bantu aku rampas kekayaan negeriku'. tidakkah ada rasa malu?"
"kejadian demo hari itu, bikin kalian panas kan? dengan cepat status di jejaring sosial menjamur, mengelak tuduhan. ya memang, tidak semua itu benar. tapi jadi terpikir oleh saya, bagaimana kalau yang mendemo bukanlah sesama mahasiswa, tapi adalah buruh, adalah rakyat, menuntut kita bergerak. karena menurut mereka kita sudah terlalu lama diam. apa yang berani kalian tulis di jejaring sosial?"
Sunday, January 8, 2012
Apa lagi yang baru?
Mau beli kamar apartemen, kamar paling atas, jendela gede depan kasur dengan view kota. Jam segini pake sweater biru dongker sambil selonjoran. Macbook di atas perut. Tulis novel.
Wednesday, December 7, 2011
:D
S: Kalo nanti sakit perut gimana coba?
TN: Eh Salma, Allah nu nyageurkeun mah, ari obat kumaha dokter, naaah makan kumaha urang!
S: Kok Syahrini mau sih? Ih ga ngerti.
TN: Yaudah paling ntar ganti alhamdulillah yah jadi astaghfirullah yah
TN: Itu kan mantannya.
S: Hah? Serius??
TN: Ya nggak serius lah kalo serius mah ga akan putus tapi nikah
Teh Novi punya celengan berbentuk singa dikamarnya, warnanya kuning hitam putih merah, dilukis kayak beneran. Setiap mau ambil baju di kamar kita selalu kaget akan keberadaan si Singa dengan taring putihnya yang mengancam.
Tadi malam bapak pulang dari Jakarta sekitar jam 10an. Lapar. Di atas meja, seperti biasa ada tempat makanan bundar, bisa diputar. Biasanya kalau malam dan semua orang sudah makan, makanannya udah dipindahin ke kulkas. Jadi bundarannya kosong makanan, bisa dilihat tembus dari penutup kaca. Tapi malam itu si bundaran ditutup koran. Alhasil penasaran, dibukalah. Ga ada makanan,
adanya kertas bertuliskan: "MAAF, KAMU SEDANG TIDAK BERUNTUNG."
Ulah siapa lagi.
Teh Novi orangnya polos banget, tapi mandiri, adik-adiknya disekolahin sama dia semua, padahal dari Mamah dikasihnya ngga seberapa, tapi disela-sela waktunya kita selalu bisa lihat dia bikin sesuatu, usaha ini itu, jualan macem-macem dia, dari mainan lembek-lembek yang nyala kalo dibanting ke lantai, senter, baju, sampai sepatu dia pernah jual. Dia ikut kursus menjahit dan memasak. Di rumah suka tiba-tiba ada kue. Buatan dia. Bikin sendiri tapi enak sayangnya kalo ditanya resepnya apa jawabannya sama: 'eta we nu aya di lemari, campurkeun.'. Dari bubur sumsum sampai chicken cream soup dia bisa bikin. Hobinya baca majalah masak yang ada di lemari, padahal ntah yang tahun kapan.
Saya tahu hidupnya tidak mudah, kadang Teh Novi tidak bicara seharian. Rasanya sepi banget. Tapi di lain waktu, dia manusia terlawak yang pernah menginjakkan kaki di bumi.
Teh Novi juga pinter, dia suka baca buku-buku yang ada di rumah, baca koran, baca majalah, bacain PR buat adek-adek juga.
Bahkan suka beliin aku roti kukus pas ngejemput. Padahal uang yang tersisa di dompet aku juga mungkin lebih banyak daripada yang dia bawa saat itu.
Fix aku sayang banget sama Teh Novi. Big huug ({})
TN: Eh Salma, Allah nu nyageurkeun mah, ari obat kumaha dokter, naaah makan kumaha urang!
S: Kok Syahrini mau sih? Ih ga ngerti.
TN: Yaudah paling ntar ganti alhamdulillah yah jadi astaghfirullah yah
TN: Itu kan mantannya.
S: Hah? Serius??
TN: Ya nggak serius lah kalo serius mah ga akan putus tapi nikah
Teh Novi punya celengan berbentuk singa dikamarnya, warnanya kuning hitam putih merah, dilukis kayak beneran. Setiap mau ambil baju di kamar kita selalu kaget akan keberadaan si Singa dengan taring putihnya yang mengancam.
Tadi malam bapak pulang dari Jakarta sekitar jam 10an. Lapar. Di atas meja, seperti biasa ada tempat makanan bundar, bisa diputar. Biasanya kalau malam dan semua orang sudah makan, makanannya udah dipindahin ke kulkas. Jadi bundarannya kosong makanan, bisa dilihat tembus dari penutup kaca. Tapi malam itu si bundaran ditutup koran. Alhasil penasaran, dibukalah. Ga ada makanan,
adanya kertas bertuliskan: "MAAF, KAMU SEDANG TIDAK BERUNTUNG."
Ulah siapa lagi.
Teh Novi orangnya polos banget, tapi mandiri, adik-adiknya disekolahin sama dia semua, padahal dari Mamah dikasihnya ngga seberapa, tapi disela-sela waktunya kita selalu bisa lihat dia bikin sesuatu, usaha ini itu, jualan macem-macem dia, dari mainan lembek-lembek yang nyala kalo dibanting ke lantai, senter, baju, sampai sepatu dia pernah jual. Dia ikut kursus menjahit dan memasak. Di rumah suka tiba-tiba ada kue. Buatan dia. Bikin sendiri tapi enak sayangnya kalo ditanya resepnya apa jawabannya sama: 'eta we nu aya di lemari, campurkeun.'. Dari bubur sumsum sampai chicken cream soup dia bisa bikin. Hobinya baca majalah masak yang ada di lemari, padahal ntah yang tahun kapan.
Saya tahu hidupnya tidak mudah, kadang Teh Novi tidak bicara seharian. Rasanya sepi banget. Tapi di lain waktu, dia manusia terlawak yang pernah menginjakkan kaki di bumi.
Teh Novi juga pinter, dia suka baca buku-buku yang ada di rumah, baca koran, baca majalah, bacain PR buat adek-adek juga.
Bahkan suka beliin aku roti kukus pas ngejemput. Padahal uang yang tersisa di dompet aku juga mungkin lebih banyak daripada yang dia bawa saat itu.
Fix aku sayang banget sama Teh Novi. Big huug ({})
Subscribe to:
Posts (Atom)
