Sunday, September 25, 2011

Desa

Pagi.

Awan masih menggantung. Menemani matahari yang malu-malu keluar dari ufuk.

Pagar bambu. Ayam jago. Dan tugu kecil identitas tanda eksisnya sebuah desa.

Umurnya tak lagi bisa dibilang muda. Apalagi dengan jumlah cucu melebihi jari di raga.

Dengan langkah tegap dan yakin ia melangkah sendiri ke rumah abu-abu. Tanpa cat depan. Dihiasi hanya dengan kolam ikan berbentuk persegi panjang. Halamannya disemen. Mungkin untuk parkir motor, karena gang tidak cukup besar menampung mobil.

Kosong.

Ia melangkah ke dalam.

Tak ada yang tahu hari itu adalah hari itu. Hari ketika ia pulang.

Baru saja menghempas badan di sofa. Berdatangan satu persatu. Menyalami. Menanyakan kabar. Tulus.

Berita menyebar lebih cepat disana.

Di tempat twitter, bbm, dan facebook akan dijawab dengan pertanyaan: apa.

Rumah abu-abu penuh dan padat. Dengan hati. Dengan sanak saudara dikangeni.

Terceletuk di hati mengetuk,
(akan) adakah desa tersisa, untukku mengadu nanti?

0 comments:

Post a Comment